The Jakarta Post , Tangerang | Sun, 04/19/2009 1:57 PM | Discover
Ambadini, a law student at Syeh Maulana Yusuf University (Unis) in Tangerang, did not expect she would land a journalism position at her local paper so quickly.
The 27-year-old recently completed a journalism-training seminar along with 50 other students from universities across Jakarta and was promptly offered a reporting position with the Tangerang Tribune Daily.
Ambadini, who is in her last semester at university, said she enjoyed her new job as it presented new challenges.
"The journalism training was very effective. I learned a lot about the role of a young journalist both in the field and behind the editorial desk. I learned how to write reports using the correct journalistic jargon and developed my photography skills," she told The Jakarta Post.
Ambadini and four other students, despite not having finished their studies, were recruited by local newspapers following their month-long practical training at various editorial offices.
Four others who partook in the training now work for Satellite News and Radar Banten.
"It's really surprising. I have started working as a cadet journalist with the newspaper.
I have been assigned to cover news for the sport and city desks by the editor-in-chief, " Dini said.
Komsurizal, an editor at the Tangerang Tribune Daily, said the paper recruited her because she was the only participant training at the paper's editorial office who showed real potential of becoming a journalist.
The training program was conducted by the Tangerang University Students Forum (Format) in cooperation with Tangerang's Daily Journalists Working Group (Pokja Wartawan Harian Tangerang) between August 2 and Sept. 2 last year.
The training, titled "Menggugat Nilai-Nilai Kritis Mahasiswa Melalui Media Massa" was undertaken by 50 students from Unis, STIE Yuppentex, Asyukriyah, STIMIK Rahardja and Muhamadiyah University.
"We wanted university students to have a basic knowledge in journalism and we received a warm response from media organizations, so eventually the training materialized, " Agus, the program chairman, said.
The training was held every Saturday at the Unis campus in Tangerang municipality.
Multa Fidrus, the Jakarta Post's Tangerang-based journalist, introduced participants to the basics of journalism and the use of Bahasa Indonesia Jurnalistik writing techniques.
Ayu Cipta from Koran Tempo taught participants how to write feature stories while Joniansyah from the same publication informed them about identifying news and potential sources.
M. Choiri, from RCTI, gave an introduction to television journalism while his wife Dewi Gustiana, from the Suara Pembaruan Afternoon Daily, taught participants the necessary skills for conducting interviews and with a news source.
M. Koharuidin from TV One led the participants through the ropes of investigative reporting while Celestinus Trias HP from Warta Kota Daily explored photojournalism with the enthusiastic students. "We merely initiated the training just to broaden our knowledge without any sponsors to support the program," Siswanto, the organizing committee chairman, told the Post.
He said following the training, the participants sat a comprehensive test to measure their understanding of the principles of journalism. The ten best participants were then offered internships with local newspapers. (The Jakarta Post)
Senin, 2009 April 20
Selasa, 2009 Februari 24
Festival Budaya Peranakan Tionghoa
Vihara Nimmala (Kelenteng Boen San Bio) di Koang, Pasar Baru, Kota Tangerang, Selasa (24/2/09), ramai dipenuhi ribuan warga keturunan China Benteng.
Di seluruh area kelenteng terlihat berbagai panggung pagelaran, dihiasi pernak-pernik dan berderet kios yang menjajakan penganan kepada para pengunjung kelenteng.
Maklum, hari itu merupakan dibukanya acara Festival Kebudayaan Peranakan Tionghoa selama tiga hari ke depan.
Festival ini untuk memperingati Shedjit Kongtjouw Hok Tek Tjeng Sin dan 320 Tahun Kelenteng Boen San Bio.
Di hari pertama festival, tanggal 24 Februari 2009 atau 30 Cniagueq 2560, panitia menggelar Bazaar dan Festival Jajanan Tionghoa Peranakan Tangerang, Festival Foto Tionghoa Peranakan Tangerang, Pemutaran Film Tionghoa Peranakan, Pengobatan Gratis, Pentas Seni, Festival Band, Pentas Liong dan Barongsay.
Di hari kedua, 1 Jigueq 2560, festival Shedjit dimeriahkan dengan pementasan Gambang Kromong, Lomba Ngibing Manula, Festival Kebaya Nyonya, Teater Oey Tambah Sia si Playboy Jadul, Persembahan 108 Miesoa dan Pemilihan Locu. Selanjutnya, Pentas Liong dan Barongsay ditampilkan di hari ketiga festival dengan melibatkan belasan kelompok Liong dan barongsay yang ada di Tangerang.
Menurut Wakil Ketua Pengurus Boen San Bio, Sutedja Budiman, festival tersebut dikemas untuk menujukkan beragam budaya peranakan Tionghoa seperti musik, peragaan busana, makanan peranakan Tangerang hingga budaya lainnya yang berbaur dengan sejarah peranakan Tangerang.
Sementara peranakan Tionghoa sendiri merupakan keturunan kawin campur antara Tionghoa dengan pribumi dan menjadi cikal bakal Cina Benteng. Disamping itu kawin campur juga menyebabkan akultrasi budaya, sehingga memadu padankan kebudayaan peranakan hingga saat ini.
“Bentuk-bentuk rumah di Tangerang juga masih banyak yang kuno-kuno,” kata Sutedja mencontohkan.
Acara festival dibuka secara resmi oleh Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah beserta pengurus Vihara Nimmala dan tokoh peranakan Tangerang.
Kamis, 2009 Februari 12
Ipat, Teknologi Peningkat Panen
.jpg)
Teknologi Ipat-Bio+Vitafarm, salah satu teknologi baru dalam bidang pertanian padi, untuk pertamakalinya dikembangkan di Desa Jeruktipis Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang. Hasil panen dengan teknologi ini bisa bertambah hingga 30 persen.
Bupati Serang Taufik Nuriman usai membuka panen perdana padi teknologi Ipat-Bio, Rabu (11/2), mengungkapkan, awalnya pemerintah ragu untuk menerapkan teknologi ini pada petani padi di Kabupaten Serang. Namun setelah melihat langsung hasilnya, teknologi ini memang cukup membantu meningkatkan hasil panen di Kabupaten Serang.
"Pada tahun 2008 lalu Kabupaten Serang sudah mengalami surplus stok pangan, dengan hadirnya teknologi baru ini, tentunya akan menambah surplus hasil panen, apabila ini terus dikembangkan, Kabupaten Serang tentunya bisa mengekspor beras," kata kepada harian umum Banten Tribun.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Serang, Dadang Hermawan yang mendampinginya mengungkapkan pada tahun 2008 lalu Kabupaten Serang mengalami surplus beras. Hasil panen para petani mencapai 31.280 ton sedangkan kebutuhan stok pangan dari 1,3 juta jiwa dikali 186 kilogram beras per jiwa per tahun sekitar 24.180 ton. "Berarti kita masih surplus stok beras sekitar 7100 ton,” ungkapnya.
Dengan dikembangkannya teknologi baru ini, diharapkan Kabupaten Serang akan menjadi penyuplai beras bagi daerah-daerah lain di Indonesia. "Bahkan sampai ekspor beras," tuturnya.
Pengembang teknologi Ipat-Bio+Vitafarm, Dr Ir Tualar Simarmata M S ketika ditemui Tangerang Tribun mengungkapkan, saat ini penemuannya dalam teknologi pangan, baru sebatas penambahan hasil sekitar 30 persen. Diharapkan untuk ke depan bisa lebih dari itu.
Untuk satu hektar sawah, biasanya menghasilkan padi 5 hingga 6 ton, setelah menggunakan teknologi Ipat-Bio+Vitafarm ini dengan pola tanam, bibit 25 kilogram, masa tanam benih 24 hari, pemupukan IPK 450 kg, Urea 200 Kg, pupuk kandang 1000 Kg, pupuk organik cair Vitafarm 2 liter. "Dengan masa tanam 100 hari, dapat menghasilkan sedikitnya 8,5 ton padi atau lebih 30 persen, dari pola tanam biasa," ungkapnya.
Apabila teknologi ini lebih menghasilkan dari pola tanam yang biasa, direncanakan teknologi ini dikembangkan di seluruh tanah air. ”Agar Indonesia tidak lagi mengimpor beras," pungkasnya.(Foto: Banten Tribun)
Label:
ketahanan beras,
pertanian
Minggu, 2009 Februari 08
Street Circuit Lippo Resmi Dioperasikan
Sirkuit Internasional Jalan Raya di Lippo Karawaci, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang dioperasikan secara resmi, Minggu (8/2).
Peresmian sarana olahraga otomotif bernilai US$ 15 Juta ini dilakukan Menteri Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault di tengah acara The Lippo Village Indonesian GT Championships Serie 1.
Sirkuit Lippo Karawaci sendiri merupakan sirkuit jalan raya pertama di Indonesia dengan standar internasional dan dirancang untuk menggelar even balapan dunia seperti AI Grand Prix dan Formula 1.
Peta desain sirkuit Lippo Karawaci dibuat seorang ahli sirkuit balap Herman Tilke yang memiliki panjang 3,2 km dan 12 tikungan searah jarum jam. Kondisi ini dapat memungkinkan para pembalap memacu kendaraan hingga mencapai kecepatan tertinggi 300 kilometer/jam.
Sedangkan fasilitas di dalam arena diantaranya tersedia tribun dengan kapasitas 6.000 penonton, hotel berbintang lima, Rumah Sakit Internasional, perkantoran, sarana helikopter, sarana parkir, restoran dan pusat makanan atau jajanan serta gerai A1 Gren Prix.
"Saya mewakili pemerintah merasa bangga. Event ini dapat menjadi sebuah titik tolak untuk kembali menghidupkan rasa nasionalisme kita," kata Adhyaksa saat memberikan sambutan dalam peresmian itu.
Lebih lanjut, Adhyaksa menilai PT Lippo Karawaci Tbk berhasil membuktikan bangsa Indonesia turut berpartisipasi memajukan dunia olahraga otomotif. “Dengan sarana ini F1 nantinya dapat diselenggarakan di Indonesia,” kata Adhyaksa didampingi pendiri Lippo Grup James Riady, Ketua Ikatan Motor Indonesia Ari Batubara, Ketua Komisi II DPR RI Theo L Sambuaga, Jenderal TNI (purn.) Agum Gumelar, Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah dan Wakil Bupati Tangerang H Rano Karno.
Dalam peresmian itu disamping mobil yang mengikuti even balapan GT Championships Serie 1, ratusan kendaraan dari klub otomotif serta ribuan penonton memadati area sirkuit. Berbagai acara digelar, sehingga memeriahkan peresmian sarana yang diprediksi akan menggantikan Sirkuit Sentul ini.
Label:
sirkuit,
sirkuit lippo,
Wisata Banten
Ratusan Mobil Klub Konvoi ke Supermal
Sejumlah klub otomotif yang tergabung dalam Forum Komunikasi Klub & komunitas Otomotif (FK3O) mengerahkan para anggotanya untuk berkonvoi ke sekitar area Supermal Lippo Karawaci, Minggu (8/2).
Dengan berkekuatan sedikitnya mencapai 550 mobil klub, mereka beramai-ramai mendatangi sekaligus memeriahkan acara Peresmian Sirkuit Jalan Raya Lippo Village yang diresmikan oleh Menpora Adyaksa Dault.
Sedangkan titik sentral penumpukan kendaraan klub menuju Karawaci berada di Stopan Km 13,5, Tol Jakarta-Tangerang. Dari arah Tol BSD, dimulai dari The Green BSD City, BSD. Sementara dari arah Kabupaten Tangerang dan sekitarnya starnya dimulai dari Taman Parkir Universitas Multi Media, Gading Serpong.
Sejumlah klub otomotif ini datang dari berbagai daerah, terutama berasal dari Jabodetabek dan Banten serta luar Jawa.
Kedatangan mereka tetap akan merayakan peresmian Sirkuit Jalanan Lippo yang semula direncanakan sebagai ajang bergengsi internasional A1 GP. Balapan A1GP ini batal dikarenakan tidak mendapat izin dari Federasi Automobil Internasional. Namun demikian pihak panitia, menggantinya dengan menggelar Seri I GT Championships di sirkuit jalan raya Lippo Village tersebut.
Ajang atas kerjasama dengan IMI ini berlanjut seri I pada 20-22 Februari dan seri III pada Nopember 2009 sebagai pendukung balapan A1 GP pada November 2009.
Menurut Principal A1 Team Indonesia, pihaknya dalam kesempatan peresmian Sirkuit Lippo telah siap dengan mobil display dan menjual berbagai merchandise edisi khusus. "Ini pertama kali A1 Team Indonesia akan jualan merchandise," kata PR A1 Team Indonesia, Indra.
Label:
sirkuit,
sirkuit lippo,
Wisata Banten
Langgan:
Entri (Atom)




